In Kendari; Day 1


Entah mengapa aku merasa sangat senang?. 8 tahun sudah aku tidak pernah berkunjung ke sini, Kendari. Ada kegembiraan mengepul di dadaku, meski kepalaku sedikit pusing. Maklum pertama kali naik pesawat. Hari hari yang ku lalui sebelumnya cukup sulit, namun entah mengapa saat berada di sini, adrenalinku terpacu. Dalam pikiranku aku melompat riang, sangat gembira. Aku terus tersenyum membayangkannya. Sudah lama aku tidak merasa sebebas ini, bebas dari tugas kuliah bebas dari panggilan teman dan bebas dari sms sms yang biasanya selalu mengganguku di sore dan malam hari. wajarlah nomorku hilang ikut bersama dengan handponenya .
Rumah yang ku tempati kini ialah rumah tanteku di kendari. Saya tidak tahu apa nama daerahnya dengan baik. Rumah ini terletak di dekat pasar kendari, entah ada berapa pasar di kendari. Saat turun dari taksi yang ternyata supirnya orang Bone. Aku melihat pos ronda atau halte bus ataumungkin lainnya. Sebuah bangku panjang terpasang di belakang, masih kokoh walaupun agak kelihatan miring. Di atasnya beratapkan seng berkarat dan bocor di bagian tengah. Tepat di belakangnya terdapat rumah yana menurutku lumayan dan nyaman. Rumah ini berpagar besi, berlapis cat putih di tengahnnya terdapat tempelan besi berbentuk dua ekor naga saling berhadapan dengan posisi siap menyerang. Gambar naga itu cukup mencolok karena dilapisi cet berwana hijau tua. Di sepanjang pagar dari besi ini, menjalar tanaman labu putih yang tumbuh subur dan buahnya besar besar. Aku jadi teringat pada guru Biologi smpku yang membuat rumah kaca dengan tanaman labu putih didalamnya namun sayang tanamannya tidak dapat tumbuh dengan baik.
Masuk ke dalam rumah, aku segera meletakkan barangku. Tidak lama kemudian tanteku keluar mengarahkanku menuju kamar yang akan ku tempati. Kamar yang lucu. Spraynya berwarna pink dan cukup besar, lima orang pun bisa tidur di atasnya jika posisinya horizontal. Kembali senyum tipisku mengembang.
Berbaring sejenak, aku bangkit ingin jalan-jalan, hanya sekitar rumah saja. Lorong – lorong kecil masih menjadi ciri khas dari tempat ini, sebagai pembatas antara rumah rumah. Setiap langka kaki ku pijakkan tidak pernah terhenti terdengar suara samar-samar kesibukan rumah tangga. Samar samar ku dengar suara kebebasan yang tidak ku mengerti artinya. Mereka berbahasa daerah. Tidak jauh dari situ aku melihat ibu ibu yang sedang mengais ngais sirip ikan dengan pisau, di bantu oleh dua orang anaknya, cepat kakiku melangkah begitu pula mataku tertuju pada kesibukan itu hingga leherku tidak mampu lagi menoleh. Semuanya ku lakukan dengan iringan senyuman.
Makan malam
Sehabis isya waktunya makan malam, tidak seperti malam biasanya. Malam ini sama anak TK pun aku akan kalah hanya dengan porsi makanannya. Aku sedikit tertipu awalnya aku melihat sayur bayam dengan beberapa bakso tenggelam di dalamnya namun ternyata itu hanya sayur toge. Airnya bening hingga kau dapat melihat lantai pada permukaan air sayur itu. Rasanya hambar, sayur ini hanya di masak tanpa ada campuran bumbu sedikitpun. Tidak seperti biasanya duniaku seakan terbalik 180 derajat. Aku tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini, namun tetap saja akan aku jalani karena memang inilah tujuanku kembali kesini, yaitu merasakan keterbatasan hidup mewah yang biasa dijalani orang orang di luar sana.
Tepat saya, mengetik di ruang tamu, seorang perempuan datang duduk di sampingku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap melanjutkan ketikanku. Hingga ia memulai percakapan
“ketik apa?” tanyanya
“bukan apa apa, iseng….” Aku terus mengetik.
Konsentrasiku buyar ketika dia mulai menyinggung masalah teman laki-lakinya yang suka pada sesama jenis. Aku berhenti mengetik, penasaran dengan kelanjutan ceritanya
Ternyata dia kuliah di STIKES jurusan keperawatan, pantas saja pikirku. Hampir se jam kami ngobrol, dan aku belum tahu siapa namanya. Tiba tiba seorang ibu ibu masuk, awalnya menurutku ia tamu, namun kelihatannya sudah menghapal seisi rumah, dan sangat akrab dengan ibuku. Mereka bercakap dalam bahasa daerah yang masih belum bisa saya mengerti seutuhnya. Dalam percakapannya ia menanyakanku. Jika ku artikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini
“ siapa itu ?” Tanya perempuan itu pada ibuku
“dia anakku”
“yang perempuan?”
“bukan, yang perempuan itu Eko”
Aku langsung terkesiap menatap perempuan yang sejak tadi berada di sampingku, sibuk sms an
“siapa eko?” tanyaku
“saya” katanya sambil menunjuk dirinya
Aku langsung teringat kejadian sewaktu aku masih seumuran anak TK
“kau masih ingat saya waktu datang ke rumahmu?”
“kapan?”
“waktu kecil, waktu itu kamu memukulku dengan sapu lidi”
“hah!, iyakah. Kenapa saya pukul kamu?”
“hanya main main”
“ouhh mungkin karena kamu nakal mungkin. Saya pernah ikat orang di pohon……….”
Dia terus mengoceh, tentang masa SMPnya. Dia pernah mengikat temannya di pohon lantaran temannya itu nakal, sering mengangkat rok rok anak perempuan temannya, hingga akhirnya dia berakhir terikat di pohon.
“Hey, kenapa kau suka angkat angkat roknya orang, bagaimana rasanya kalo kamu saya buka celanamu di situ?” yah begitulah katanya sambil memperagakan gerakannya.
Percakapan kami terus berlangsung, hingga sampai pada tingkat yang jauh. Interen.
“kamu sudah punya pacarkah?” tanyanya sambil berbisik
“baru saja putus” jawabku sambil menghela napas
“kenapa?” sudah kuduga dia akan menyakan hal itu, aku hanya menggeleng.
“yang sabar yah” katanya sambil menepuk nepuk pundakku. Kami terus bercakap hingga sampai kepada hal hal yang sangat jauh. Hal yang menarik bagiku saat dia bercerita mengenai kelakuan kebanyakan temannya, tentunya masih berkaitan dengan masalah asmara. Mulai dari kesukaannya pada lelaki, bagaimana tipenya dan semua hal hal aneh yang dialami temannya semuanya diperbingcangkan.
Aku terfokus ketika dia membicarakan perangkap perangkap yang biasa perempuan lakukan untuk pacarnya. Salah satunya jikalau perempuan minta putus, tapi bagiku itu kurang menarik karena hampir sama dengan kebanyakan orang. Yang membuatku tertarik adalah percakapan mengenai cara mereka memilih pacar. Ada sidikitnya lima poin yang ku dapatkan dari perkataannya untuk membuat cowok mengeluarkan uang untuk pacarnya.
“pertama lihat motornya, apa mereknya” katanya. iapun mulai menyebutkan beberapa merek motor.
“sudah itu lihat isi dompetnya, dia harus bisa seperti doraemon” ia kemudian berdiri memperagakan “kalo haus tinggal keluarkan, lapar sayang, oh iya ayo makan” katanya sambil memperagakan saya hanya duduk tertawa melihat tingkahnya.
“satu lagi yang seru, kalo sudah ajak ajak ke mal sama pacar, kalo lihat gelang yang cantik toh pura pura seperti ini”. Katanya sambil memainkan dua orang peran. “ih gelangnya. kenapa sayang?, oh tidak gelang itu seperti gelanggu dulu yang hilang. Oh kalo begitu ambil saja. Ah ndak usah sayang saya nda enak sama kamu. Tidak apa apa lagian warnanya juga cocok sama baju kamu” aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. Tapi dia terus saja berbicara panjang lebar, kayaknya dia tidak pernah kehabisan kata.
“begini toh, kalo mau pergi ke mall, supaya dibelikan sandal, dari rumah bawa memang sandal yang agak rusak. Sampai di mall. Aduh, kenapa sayang, ini sandalku, sudah mau rusak kayaknya, bagaimanami? Oh tidak tidak apa apa ayomi kita cari yang baru, iya sandal yang biasa saja. Oh tidak usah kita kan mau ke mall kita beli saja di sana.” Wah wah wah gila juga pikirku. Tapi seru…..
Larut malam, ngantuk, mari tidur. Hari pertama yang mengesankan pikirku.

0 komentar:

Post a Comment